Bila hati itu sedih, semua yang berada di sekeliling sedih, samar, suram, tidak ceria. Tiada senyum menghiasi bibir Sedih dalam erti kata dilanda musibah atau ditinggalkan atau dipermainkan oleh seseorang mungkin jugak diucapkan kata itu yang menjadi ayat keramat dan teramat luka....mencarikkan hati & menjadikan kita mempersoalkan mengapakah aku menjadi sasaran tidak orang lain.
Aku kah yang bersalah atau sudah ditakdirkan begitu atau sudah tersurat di azali ini akan terjadi pada diriku? Teringat pesan Mak dan juga pesan orang tua2 dulu, jangan terlalu gembira,ketawa besar sampai tak ingat dunia.. Takut2 nanti sekejap ketika bertukar menjadi tangisan dan duka. Ya benar! Sekelip mata saja semuanya berubah. Terasa baru saja semalam kita bergelak ketawa, tapi hari ini, kita bagai orang asing di dalam dunia yang sama. Saling membisu dan ibarat tidak mengenali antara satu sama lain.
Hati aku menjadi sayu tiba-tiba. Suram, sunyi dan begitu asing terasa. Mungkin benar aku yang bersalah. Tapi bukankah aku sudah memohon kemaafan dari dia? Apakah tiada sekelumit rasa kasih seorang teman, atau apa saja di hati dia? Atau mungkin hanya aku saja yang selama ini begitu menyayangi dia seperti saudara sendiri?
Aku perlu padamkan kesedihan di hati. Aku perlu tabahkan jiwa. Aku harus bangun dengan kekuatan. Jalan itu bukan kesudahan.Aku pasti ada hikmat dan iktibar pada kejadian itu .Allah menguji ketabahan dan kekuatan jiwa aku. Ya Aku harus muhasabah diri. Aku harus menganggap apa yang berlaku suatu suratan dan urusan Allah semata....kerana kita banyak merancang tetapi ketentuan itu datang dariNYA....
Waalahu'alam....

